MARANELLO, AVOLTA – Ferrari memilih jalan berbeda dalam upayanya menghadirkan pengalaman berkendara emosional pada mobil listrik.
Saat sejumlah pabrikan mulai mengadopsi suara mesin buatan dan simulasi perpindahan gigi seperti yang dipopulerkan Hyundai melalui Ioniq 5 N, Ferrari memiliki pandangan berbeda.
CEO Ferrari, Benedetto Vigna seperti dikutip Drive, Senin (8/6/2026) menegaskan bahwa sistem yang digunakan pada mobil listrik terbaru mereka tidak dirancang untuk meniru transmisi konvensional seperti yang dilakukan sejumlah kompetitor.
Ia bahkan menyebut bahwa solusi yang dipakai Ferrari akan melibatkan komponen fisik yang nyata, bukan sekadar simulasi perangkat lunak.
Alih-alih menciptakan sensasi perpindahan gigi palsu, Ferrari ingin menghadirkan perubahan karakter akselerasi yang lebih alami sehingga tetap memberikan keterlibatan emosional antara mobil dan pengemudi.
Pendekatan serupa juga terlihat pada pengembangan suara kendaraan. Ferrari menolak menggunakan rekaman suara mesin V8 atau V12 yang diputar melalui speaker. Sebagai gantinya, pabrikan asal Maranello itu memanfaatkan suara asli yang dihasilkan motor listrik dan komponen penggeraknya.
Getaran mekanis dari sistem penggerak ditangkap sensor khusus, lalu diperkuat sehingga menghasilkan identitas suara yang unik tanpa harus meniru mobil bermesin pembakaran internal.
Menurut Ferrari, tujuan utama dari teknologi tersebut bukan menciptakan ilusi bahwa pengemudi sedang mengendarai mobil bensin, melainkan membangun karakter baru yang tetap terasa khas Ferrari meski menggunakan tenaga listrik sepenuhnya.
Filosofi ini dianggap penting karena Ferrari selama puluhan tahun dikenal melalui kombinasi performa, suara mesin, dan keterlibatan pengemudi yang sulit ditiru merek lain.
Dengan memilih jalur berbeda, Ferrari tampaknya ingin membuktikan bahwa mobil listrik performa tinggi tidak harus meniru mobil bensin untuk tetap terasa istimewa.
