Prabowo Dorong Jepang Percepat Investasi EV di Indonesia

JAKARTA, AVOLTA – Pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan 13 perusahaan Jepang di Tokyo difokuskan pada peningkatan investasi, termasuk pengembangan industri otomotif dan kendaraan listrik.
Dalam kunjungan resminya ke Tokyo, Jepang, Selasa (31/3/2026) Prabowo bertemu dengan 13 perusahaan ternama Jepang dari berbagai sektor.
Beberapa di antaranya, yaitu Toyota Motor Corporation, Mitsubishi Corporation, serta Panasonic Group. Selain otomotif, turut hadir pula perwakilan dari sektor energi, keuangan, hingga perdagangan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa fokus utama pertemuan ini adalah memperkuat investasi strategis, khususnya pada sektor hilirisasi industri.
“Pemerintah menilai hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Dalam forum tersebut, Prabowo mendorong para investor Jepang untuk memperluas investasi mereka di Indonesia. Sektor hilirisasi menjadi perhatian utama karena dinilai mampu menciptakan lapangan kerjaserta meningkatkan daya saing industri nasional.
Pertemuan ini juga menjadi kelanjutan dari komitmen investasi Jepang yang sebelumnya telah mencapai lebih dari Rp380 triliun.
Pemerintah Indonesia pun menegaskan komitmennya dalam menjaga iklim investasi yang kondusif agar kerjasama strategis kedua negara dapat terus berkembang.
Dari sisi otomotif, isu transformasi industri menuju kendaraan listrik turut menjadi pembahasan penting. Pemerintah mendorong percepatan pengembangan ekosistem battery electric vehicle (BEV) sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional.
Prabowo menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri otomotif berbasis listrik, mengingat ketersediaan sumber daya alam yang mendukung. Ia juga menekankan pentingnya mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri.
Di sisi lain, Presiden menyinggung bahwa sejumlah pabrikan Jepang masih cenderung berhati-hati dalam mengadopsi kendaraan listrik murni. Padahal, pengembangan EV dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar sekaligus membuka peluang industri baru di Indonesia.
Dengan pertemuan ini, pemerintah berharap kolaborasi Indonesia dan Jepang semakin kuat, terutama dalam mendorong investasi di sektor otomotif dan percepatan transisi menuju kendaraan listrik di Tanah Air.
