Krisis BBM Picu Pasar Mobil Listrik Bekas Bergejolak

Volkswagen Kejar Setoran Bangun 25 Ribu Titik Pengisian EV di Dunia (Driven)

PARIS, AVOLTA – Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik mendorong perubahan signifikan di pasar otomotif Eropa. Penjualan mobil listrik bekas meningkat seiring konsumen mencari alternatif yang lebih hemat di tengah kenaikan harga bensin.

Melansir Reuters, Sabtu (28/3/2026) kenaikan harga bahan bakar di Eropa dipicu oleh konflik di Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026. Gangguan terhadap jalur distribusi minyak global membuat harga bensin di Uni Eropa naik sekitar 12% hingga mencapai Rp 31.000 per liter pada pertengahan Maret.

Kondisi ini langsung berdampak pada perilaku konsumen. Banyak pembeli mulai beralih ke kendaraan listrik, khususnya mobil listrik bekas yang dinilai lebih terjangkau dan tersedia tanpa harus menunggu lama seperti unit baru.

Sejumlah platform otomotif di Eropa mencatat lonjakan signifikan. Situs jual beli mobil di Norwegia melaporkan bahwa mobil listrik kini telah melampaui diesel sebagai jenis kendaraan paling laris.

Contoh lain di Prancis, penjualan mobil listrik melalui diler Aramisauto hampir dua kali lipat hanya dalam beberapa minggu, sementara penjualan mobil bensin dan diesel justru mengalami penurunan.

Tren serupa juga terlihat di berbagai negara lain seperti Jerman, Swedia, dan Denmark. Platform jual beli mobil mencatat peningkatan tajam dalam pencarian mobil listrik, menunjukkan bahwa minat terhadap EV sebenarnya sudah tumbuh sebelumnya, namun kini semakin cepat akibat lonjakan harga bahan bakar.

Selain faktor harga, mobil listrik bekas menjadi pilihan menarik karena menawarkan biaya awal yang lebih rendah dibandingkan model baru. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya harga energi, konsumen cenderung mencari solusi mobilitas yang lebih efisien dan ekonomis.

Data pasar juga menunjukkan tren ini tidak bersifat sementara. Sejak konflik dimulai, penjualan dan minat terhadap mobil listrik terus meningkat, memperkuat indikasi bahwa pergeseran menuju kendaraan elektrifikasi semakin cepat di Eropa.

Selain itu, fenomena ini menegaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar dapat menjadi katalis utama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik.

Di tengah tekanan biaya hidup dan energi, mobil listrik terutama unit bekas menjadi solusi realistis bagi konsumen yang ingin tetap mobilitas tanpa terbebani biaya operasional tinggi.

CATEGORIES
TAGS