
JAKARTA, AVOLTA – Ketegangan geopolitik akibat konflik Iran dan Amerika Serikat serta Israel memicu perubahan besar di industri otomotif Asia. Harga bahan bakar yang melonjak tajam karena perang Timur Tengah tersebut, mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik (EV).
Disitat dari Japan Times, di Manila, Filipina permintaan mobil listrik, khususnya dari merek asal China BYD, meningkat cukup drastis. Bahkan, Matthew Dominique Poh, seorang tenaga penjual di dealer setempat mengatakan, pesanan yang biasanya habis dalam satu bulan kini ludes hanya dalam dua pekan.
Kondisi serupa terjadi di Hanoi, Vietnam. Dealer VinFast mencatatkan lonjakan kunjungan hingga empat kali lipat. Dalam tiga pekan sejak konflik pecah, penjualan mencapai 250 unit atau sekitar 80 unit per pekan, dan dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.
Bagi sebagian konsumen, keputusan beralih ke mobil listrik kini bukan lagi soal tren, melainkan kebutuhan ekonomi. Pengguna yang memiliki mobilitas tinggi menilai kendaraan listrik mampu memangkas biaya operasional secara signifikan, terutama di tengah ketidakpastian harga energi dunia.
Meskipun laporan penjualan resmi untuk Maret 2026 belum resmi dirilis, namun tanda-tanda awal menunjukkan produsen EV Asia seperti BYD dan VinFast, menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Lonjakan harga bahan bakar terasa sangat berat di kawasan Pasifik, mengingat sekitar 80% minyak mentah yang melewati Selat Hormuz biasanya berakhir di wilayah ini sebelum jalur tersebut terganggu akibat konflik.





