Teknologi BYD Banyak Dicontek Merek Lain: Wajar!

ilustrasi casan BYD di Cina. (sachi-X)
SHENZHEN, AVOLTA – BYD Group menegaskan bahwa inovasi merupakan fondasi utama tanpa kompromi. Tanpa kemajuan teknologi, industri otomotif berisiko mengalami stagnan.
Mengutip Oriental Finance, Senin (5/1/2026), General Manager Brand & Public Relations BYD Group, Li Yunfei mengatakan, fase awal pengembangan teknologi BYD sempat diragukan oleh sejumlah pabrikan otomotif lain.
Namun, seiring waktu dan pembuktian di lapangan, keraguan tersebut justru berubah menjadi ketertarikan, bahkan diikuti dengan upaya meniru teknologi yang dikembangkan BYD.
“Jika tidak ada inovasi, industri akan berhenti. Bahkan pesaing pun tidak akan punya pijakan untuk berkembang,” tutur Li.
Sebagai contoh konkret, Li menyinggung kehadiran teknologi megawatt flash charging yang diperkenalkan BYD pada awal 2025. Teknologi ini menjadi terobosan besar dalam pengisian daya cepat kendaraan listrik dan sekaligus mengubah standar industri.
Menurut Li, persaingan di industri otomotif memang selalu berjalan dalam siklus teknologi. Biasanya, satu pemain akan memimpin dengan inovasi baru, lalu diikuti oleh pemain lain dalam rentang waktu satu hingga tiga tahun.
“Kesimpulan kami jelas, inovasi harus terus berlanjut. Tanpa terobosan orisinal, pada akhirnya tidak akan ada sesuatu yang bisa ditiru oleh pihak lain,” katanya.
Li juga menyoroti peran sentral pendiri BYD, Wang Chuanfu, dalam menjaga budaya inovasi perusahaan. Wang dikenal tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga aktif terjun langsung ke ranah riset dan pengembangan.
Bahkan ia kerap mengikuti rapat teknis maraton, membedah detail mulai dari reaksi kimia baterai hingga kesiapan infrastruktur listrik untuk mendukung pengisian daya super cepat.
Komitmen tersebut tercermin dari deretan paten baru yang didaftarkan BYD pada akhir 2025. Salah satunya teknologi motor listrik dengan kemampuan penyesuaian daya magnet, yang dirancang agar tetap efisien di berbagai kondisi berkendara.
Jika inovasi-inovasi tersebut kembali diadopsi oleh pesaing, Li menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Justru, menurutnya, mekanisme tersebut merupakan proses alami yang mendorong kemajuan kolektif industri kendaraan listrik.
