Tak Terbendung, Produsen Tiongkok Bakal Kuasai 1/3 Pasar Otomotif Dunia

Stasiun penukaran baterai mobil listrik di Cina sudah beroperasi. (Technode)
JAKARTA, AVOLTA – Dominasi pabrikan asal Tiongkok di pasar global, diprediksi tak terbendung pada masa mendatang. Bahkan, menurut bank investasi global UBS, produsen asal Negeri Tirai Bambu ini diproyeksikan bakal menguasai sepertiga pangsa pasar otomotif dunia pada 2030.
Disitat dari south china morning post, pertumbuhan merek-merek Cina ini, didorong oleh kekuatan manufaktur, efisiensi biaya produksi, serta keunggulan teknologi terutama kendaraan listrik, meskipun tetap masih akan menghadapi ejumlah hambatan perdagangan di pasar Barat.
Laporan UBS menyebutkan bahwa merek-merek Cina diperkirakan akan meningkatkan pangsa pasarnya secara signifikan, tidak hanya domestik, tapi juga di luar negeri. Dalam strategi globalisasi fase kedua, penjualan mobil asal Tiongkok diluar negeri diproyeksikan melonjak beberapa kali lipat dibandingkan beberapa tahun terakhir, berkat penetrasi di berbagai kawasan seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa.
Keunggulan mobil China yang makin menarik perhatian pembeli global, adalah kombinasi harga kompetitif dan teknologi yang terus berkembang. Produsen seperti BYD dan Geely dikenal menawarkan kendaraan listrik dan hibrida dengan harga yang lebih terjangkau dibanding rival dari Jepang, Eropa, maupun Amerika.
Selain itu, beberapa analis menyebut bahwa model produksi baru kini bisa disiapkan dalam waktu kurang dari dua tahun, jauh lebih cepat dibanding standar industri sebelumnya.
Momentum dominasi ini juga tercermin dari tren penjualan global. Cina merupakan pasar mobil terbesar dunia, di mana lebih dari separuh penjualan mobil baru di Cina pada 2025, adalah kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV). Dominasi ini menciptakan basis kuat bagi ekspansi merek Cina ke luar negeri, termasuk penjualan dan produksi di negara lain.
Namun, pertumbuhan pesat ini tidak serta-merta mulus. Hambatan seperti tarif impor tinggi di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa serta tantangan logistik tetap menjadi pekerjaan rumah bagi produsen Tiongkok. Meski demikian, tren saat ini menunjukkan bahwa beberapa pasar berkembang justru semakin menerima kendaraan Cina karena rasio harga terhadap fitur yang lebih menarik dibanding merek tradisional.
