Uni Eropa Mau Ulur Larangan Mobil Bensin

JAKARTA, AVOLTA – Sejumlah pembuat mobil terbesar di Eropa kini berharap, Uni Eropa (UE) bisa menunda rencana pelarangan penjualan mobil bensin. Keputusan yang awalnya dianggap sudah final, kini tengah dipertimbangkan, setelah tekanan kuat dan industri otomotif dan negara-negara anggota.
Disitat dari ArenaEV, keluhan datang dari banyak pelaku industri, dengan lonjakan biaya investasi ke mobil listrik, infrastruktur pengisian baterai yang belum memadai, dan persaingan dari produsen luar Eropa membuat transisi terasa sangat berat.
Beberapa pembuat mobil bahkan khawatir, perubahan terlalu drastis bisa menghancurkan margin keuntungan dan memicu penutupan pabrik serta pemutusan hubungan kerja.
Tidak sekadar keluhan, pabrikan ini menawarkan solusi, dengan izinkan kendaraan yang memakai bahan bakar netral CO₂, seperti biofuel atau bahan bakar sintetis, serta kendaraan plug-in hybrid (PHEV) tetap bisa dijual setelah 2035. Menurut pabrikan, ini lebih realistis daripada memaksa semua mobil beralih ke listrik dalam waktu singkat.
Setelah dorongan itu, pejabat dari Uni Eropa menunjukkan sikap yang tidak sekeras dulu. Friedrich Merz, kanselir Jerman, bahkan mengirim surat resmi ke Komisi Eropa meminta kelonggaran terhadap larangan mesin bensin atau diesel, dan proposal itu ‘diterima dengan baik di Brussels’.
Sampai saat ini, belum ada keputusan final, hanya sebuah kemungkinan revisi. Uni Eropa mengatakan semua jadwal semula hanya indikatif, dan hasil akhir akan diumumkan setelah semua masukan dikaji. Sementara itu, industri otomotif dan pasar menanti dengan cemas.
