Trump Longgarkan Aturan Emisi: Mobil ICE Diuntungkan

Presiden AS Donald Trump. (IST)
WASHINGTON, DC, AVOLTA – Dinamika regulasi otomotif di Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Presiden Donald Trump mengajukan usulan untuk menurunkan standar efisiensi bahan bakar (BBM) yang sebelumnya telah difinalisasi pemerintahan Joe Biden pada tahun lalu.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Trump untuk membuka ruang lebih besar bagi penjualan mobil internal combustion engine (ICE) yang selama ini tertekan oleh kebijakan elektrifikasi era Biden.
Trump secara terbuka menyampaikan pandangannya bahwa konsumen di AS masih menginginkan mobil berbahan bakar bensin. “Orang-orang menginginkan mobil berbahan bakar bensin,” kata Trump dikutip Reuters, Senin (8/12/2025).
Usulan tersebut langsung memantik respons dari banyak pihak, terutama karena kebijakan efisiensi BBM menjadi salah satu fondasi strategi Biden untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV).
Dalam dokumen yang disiapkan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), standar efisiensi BBM untuk model tahun 2022–2031 diusulkan turun drastis. Target yang sebelumnya ditetapkan sebesar 21,4 km/l (50,4 mpg) pada 2031 kini direvisi menjadi hanya 14,6 km/l (34,5 mpg).
Setelah penurunan tersebut, standar baru akan naik bertahap antara 0,25–0,5 % per tahun hingga 2031. Kebijakan ini jauh berbeda dari aturan era Biden.
Sebagai contoh, pada 2022 NHTSA di bawah administrasi Biden menaikkan standar efisiensi BBM hingga 8 % per tahun untuk model 2024–2025 dan 10 persen untuk model 2026. Aturan tersebut mendorong produsen mobil untuk mempercepat pengembangan EV tanpa secara langsung melarang penjualan mobil bensin.
Berdasarkan perhitungan NHTSA, kebijakan baru yang ditawarkan pemerintahan Trump akan memangkas biaya awal kendaraan rata-rata sebesar 930 dollar AS, namun efek jangka panjangnya tidak kecil.
Konsumsi BBM diperkirakan meningkat hingga 100 miliar galon pada 2050, yang berarti warga AS harus merogoh kocek tambahan sekitar 185 miliar dollar AS untuk membeli bahan bakar.
Tak hanya itu, emisi karbon dioksida diprediksi naik sekitar 5 %, sebuah angka yang cukup signifikan mengingat AS tengah mengejar target penurunan emisi dalam beberapa sektor industri.
