Penjualan BYD Turun di Cina: Keunggulan Teknologi Memudar

ilustrasi casan BYD di Cina. (sachi-X)
JAKARTA, AVOLTA – Setelah menjadi raja kendaraan listrik dunia selama beberapa tahun terakhir, 2025 membawa tantangan baru bagi BYD. Meskipun pada November, perusahaan membukukan penjualan tertinggi tahun ini, sebanyak 480.186 unit kendaraan energi baru (NEV), angka tersebut tetap minus 5,25% dibanding periode yang sama pada 2024.
Menurut Wang Chuanfu, Chairman dan Presiden BYD, penurunan ini terjadi karena keunggulan teknologi yang dulu menjadi pembeda kini sudah mulai memudar.
“Keunggulan teknologi kami tidak sekuat dulu, karena kami akan meluncurkan inovasi besar dalam waktu dekat. Namun saya belum bisa mengungkap detailnya saat ini,” ungkapnya dalam pertemuan khusus pemegang saham.
Lebih lanjut, Wang menyebut bahwa perlambatan pertumbuhan juga dipengaruhi oleh perang harga. di mana sejumlah produsen otomotif menurunkan harga atau menawarkan varian lebih murah sehingga memunculkan homogenitas produk. Di sisi lain, tantangan teknis seperti laju pengisian baterai yang lambat di suhu dingin ikut memperlemah daya tarik kendaraan listrik dari BYD.
Meski demikian, BYD tak menyerah. Dengan tenaga sekitar 120.000 insinyur dari segi R&D, perusahaan berencana memperkuat riset dan pengembangan selama 2 hingga 3 tahun ke depan.
Strateginya meliputi inovasi teknologi, penyempurnaan produk, serta optimalisasi pemasaran untuk mencocokkan produk dengan kebutuhan konsumen, dan pada saat bersamaan menggenjot ekspansi ke pasar global.
