Demi Reputasi, Cina Perketat Ekspor Mobil Bekas 0 Km

SHANGHAI, AVOLTA – Pemerintah Cina tengah memberlakukan kebijakan baru yang lebih ketat terhadap ekspor mobil bekas, khususnya mobil yang keluar dari pabrik tapi dijual sebagai unit bekas dengan jarak tempuh sangat rendah alias “zero-kilometre”.
Mengutip CarnewsChina, Selasa (23/12/2025), aturan ini akan resmi berlaku mulai 1 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatur pasar ekspor kendaraan dan menjaga kredibilitas merek otomotif di luar negeri.
Dalam praktik selama beberapa tahun terakhir, banyak kendaraan “bekas nol kilometer”, yaitu mobil yang baru diproduksi dan mungkin hanya berjalan beberapa ratus kilometer, tapi tetap dipasarkan melalui saluran mobil bekas meski kondisinya nyaris baru.
Di pasar domestik Tiongkok, fenomena ini telah mengakibatkan overstock kendaraan dan menurunkan harga yang seharusnya berlaku untuk unit baru.
Ekspor mobil bekas Cina meningkat tajam, dari sekitar 15.000 unit pada 2021, angka ini melonjak ke 436.000 unit pada 2024, dan diperkirakan lebih dari 500.000 unit pada 2025, dengan sekitar 70–80% di antaranya merupakan mobil “zero-kilometer”.
Aturan baru yang akan diterapkan menargetkan mobil yang ingin diekspor dalam waktu kurang dari 180 hari sejak pertama kali diregistrasi.
Untuk mendapatkan izin ekspor, kendaraan tersebut harus dilengkapi surat konfirmasi layanan purnajual (After-Sales Service Confirmation) dari pabrikan yang mencantumkan informasi kendaraan, negara tujuan ekspor, dan jaringan layanan purnajual di negara tujuan, serta stempel resmi pabrikan.
Tanpa dokumen ini, izin ekspor tidak akan diberikan. Kebijakan ini tidak melarang ekspor mobil bekas sama sekali, tetapi menaikkan standar kepatuhan dengan mewajibkan keterlibatan pabrikan dalam menjamin dukungan layanan purnajual di negara tujuan.
Langkah ini disebut sebagai upaya menyeimbangkan ekspor mobil bekas yang sah dan menjaga reputasi otomotif Cina secara global.
