Wakil Kepala BKPM Ke Jepang Ajak Toyota Investasi Bioethanol

JAKARTA, AVOLTA – Langkah besar menuju kemandirian energi hijau tengah digulirkan Indonesia. Dalam kunjungan kerja ke Jepang, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menggelar pertemuan strategis dengan Masahiko Maeda, CEO Asia Region Toyota Motor Corporation.

Pertemuan yang berlangsung di Tokyo tersebut, membahas rencana investasi Toyota dalam pengembangan ekosistem bioethanol di Indonesia, sejalan dengan agenda pemerintah untuk mendorong swasembada energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi sumber daya alam.

“Kami melihat potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioethanol di kawasan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Kamis (13/11/2025).

Dengan konsumsi bahan bakar nasional yang mencapai lebih dari 40 juta kiloliter per tahun, penerapan E10 diperkirakan akan menciptakan kebutuhan sekitar 4 juta kiloliter bioethanol pada 2027, sehingga pembangunan pabrik perlu segera dimulai.

Toyota menjadi salah satu pionir global dalam pengembangan kendaraan berbahan bakar bioethanol. Di berbagai negara seperti Brasil, Amerika Serikat, dan India, perusahaan ini telah menguji efisiensi mesin kendaraan berbahan bakar E20, bahkan teknologi tersebut telah digunakan dalam mobil balap Super Formula.

“Mesin dengan bahan bakar E20 dan Hybrid EV merupakan teknologi yang matching untuk digunakan dalam industri mobility saat ini,” ujar Maeda.

Sementara itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menyiapkan Lampung sebagai salah satu sentra pengembangan industri bioethanol nasional. Proyek perdana akan menggandeng Pertamina NRE (New Renewable Energy) dengan model kemitraan yang melibatkan petani dan koperasi lokal untuk penyediaan bahan baku. Selain memperkuat pasokan energi bersih, investasi ini juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan petani daerah.

Sebagai langkah konkret, Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan minat berinvestasi dalam pembangunan fasilitas produksi bioethanol dengan kapasitas 60.000 kiloliter per tahun dan nilai investasi sekitar Rp2,5 triliun.

“Sepulangnya dari Tokyo, baik Toyota maupun Pertamina akan langsung melakukan joint study dan site visit ke Lampung. Targetnya, pada awal 2026 perusahaan patungan sudah terbentuk,” pungkas Todotua.

CATEGORIES
TAGS