Proyeksi Laba Honda Menciut: Kena Tarif AS dan Gempuran EV Cina

Ilustrasi logo Honda (Reuters)
TOKYO, AVOLTA – Raksasa otomotif asal Jepang, Honda Motor Co., membuat langkah mengejutkan dengan memangkas proyeksi laba operasional tahunan hingga seperlima dari target awal.
Keputusan ini mencerminkan tekanan besar yang tengah pabrikan, baik dari faktor eksternal global maupun persaingan regional yang semakin ketat.
Dalam laporan yang dikutip Reuters, Rabu (112/11/2025) Honda mengakui tekanan jangka pendek muncul akibat tarif tinggi dari Amerika Serikat (AS) dan kekurangan pasokan chip semikonduktor yang masih membayangi industri otomotif dunia.
Namun, analis menilai tantangan yang lebih serius justru datang dari produsen kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok yang semakin agresif menguasai pasar Asia Tenggara wilayah yang selama ini menjadi basis kekuatan merek-merek Jepang.
Pada akhir pekan lalu, pabrikan asal Jepang secara resmi menurunkan proyeksi laba setahun penuh. Langkah ini dipicu oleh biaya pengembangan kendaraan listrik (EV) yang bersifat satu kali (one-off EV costs) serta kekurangan komponen berbasis chip dari Nexperia, perusahaan semikonduktor yang berada di bawah kendali Cina.
“Di pasar seperti Thailand, lanskap kompetitifnya kini sangat intens. Secara keseluruhan kami telah kehilangan keunggulan kompetitif dalam hal penetapan harga,” kata Noriya Kaihara, Wakil Presiden Eksekutif Honda.
Selain itu, perusahaan memperkirakan kerugian mencapai 385 miliar yen atau sekitar Rp41,6 triliun akibat dampak tarif impor dari AS. Meski lebih rendah dari estimasi awal, angka tersebut tetap menjadi beban besar bagi performa keuangan perusahaan.
