Penjualan Mobil Listrik AS Terancam Anjlok

WASHINGTON, DC, AVOLTA – Setelah bertahun-tahun menikmati potongan harga dari subsidi pemerintah, konsumen di Amerika Serikat (AS) kini harus menghadapi kenyataan baru. Insentif 7.500 dolar AS untuk pembelian mobil listrik telah berakhir, membuat harganya melonjak dan potensi penjualan diprediksi akan merosot tajam.
Berdasarkan riset JD Power bersama GlobalData, Sabtu (1/11/2025), penjualan ritel mobil listrik pada Oktober 2025 diperkirakan hanya mencapai 54.673 unit, atau anjlok 43,1% dibanding Oktober 2024 yang mencapai 96.085 unit.
Bukan hanya itu, lembaga tersebut juga memprediksi pangsa pasarnya juga anjlok dari 8,5% menjadi 5,2%. Demikian dikutip dari Carscoops.
Namun jika dibandingkan September 2025, penurunan ini jauh lebih tajam. Bulan lalu penjualan EV mencatat rekor dengan 12,9% pangsa pasar atau 136.211 unit. Artinya, penjualan Oktober bisa turun hampir 60% hanya dalam sebulan.
“Industri otomotif sedang mengalami penyesuaian besar di segmen kendaraan listrik. Koreksi pasar ini menunjukkan bahwa konsumen masih ingin punya pilihan jenis mesin yang beragam,” ujar analis JD Power, Tyson Jominy.
Penelitian juga menunjukkan adanya kenaikan harga rata-rata mobil baru di AS yang kini mencapai sekitar 46.057 dolar AS atau setara Rp764,8 juta, meningkat sekitar 1.000 dolar dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara di sisi lain, rata-rata insentif per kendaraan justru menurun menjadi 2.674 dolar AS atau sekitar Rp44,4 juta, yang setara dengan 5% dari harga jual.
Penurunan nilai insentif ini sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya penjualan mobil listrik (EV), yang selama ini dikenal mendapat potongan harga dan subsidi lebih besar dibandingkan mobil konvensional.
Kondisi tersebut menandakan perubahan tren pasar otomotif AS yang mulai menghadapi tantangan baru di tengah transisi menuju elektrifikasi.
