Insentif Pajak EV Cina Berakhir 2026: Picu Spekulan Akhir Tahun

Ekspor mobil jadi salah satu komoditi Cina. (Chinadaily)
JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah Tiongkok akan mengakhiri pembebasan penuh pajak pembelian kendaraan listrik (EV) mulai 1 Januari 2026. Langkah tersebut, menjadi akhir dari era panjang subsidi besar-besaran, yang selama ini mendorong revolusi industri otomotif di negara tersebut.
Dengan bakal berakhirnya subsidi pajak kendaraan listrik ini, langsung memicu para spekulan melonjakan penjualan kendaraan listrik di Negeri tirai Bambu pada akhir tahun ini.
Menurut laporan CarNewsChina, kebijakan baru yang diterapkan pada tahun depan akan memangkas insentif pajak yang saat ini mencapai 30.000 yuan atau sekitar Rp 65 juta – Rp 70 juta, menjadi 15.000 yuan atau sekitar Rp 32 juta – Rp 33 juta per kendaraan.
Langkah ini dilakukan setelah pemerintah menilai pasar EV di Cina telah mencapai titik kedewasaan. Lebih dari 45% penjualan mobil baru di negara tersebut, kini berasal dari kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV). Dengan begitu, dukungan fiskal besar dianggap tak lagi diperlukan.
Sementara itu, seorang eksekutif China Automobile Dealers Association mengatakan bahwa penyesuaian kebijakan ini bertujuan mengarahkan pasar dari persaingan berbasis harga, menuju persaingan berbasis nilai.
Tak hanya itu, pemerintah juga memperketat kriteria untuk mendapatkan insentif, karena mulai 2026, mobil (PHEV) dan range-extended harus memiliki jarak tempuh listrik murni minimal 100 km untuk memenuhi syarat.
Meski begitu, para analis memperingatkan akan muncul dua fase pasar, yaitu ledakan pembelian pada akhir 2025, disusul perlambatan penjualan di awal 2026. Namun, sebagian pakar melihat kebijakan ini sebagai sinyal positif, bahwa pasar mobil listrik Tiongkok telah cukup kuat untuk berdiri tanpa bantuan besar dari pemerintah.
