Pemerintah Korsel Tuding Hyundai Menjilat Trump

JAKARTA, AVOLTA – Hyundai baru-baru ini mengumumkan kenaikan investasinya di Amerika Serikat dari US$ 21 miliar menjadi US$ 26 miliar. Langkah ini, dimaksudkan untuk memperkuat kehadiran jenama asal Korea Selatan ini dalam sektor otomotif, baja, dan robotika serta menciptakan lapangan kerja langsung hingga 2028.
Namun, keputusan ini justru memicu kritik keras dari parlemen Korea Selatan dan pejabat pemerintah, yang menilai bahwa Hyundai sedang ‘menjilat’ dengan pemerintahan Donald Trump. Hal tersebut, tentu saja bisa melemahkan posisi Korea Selatan dalam negosiasi perdagangan dengan Negeri Paman Sam.
Kritikan ini terlontar karena aksi Trump, September 2025, di mana melakukan aksi sweeping para tenaga ahli asal Korsel di pabrik baterai Hyundai yang dipresekusi dianggap sebagai imigran gelap. Ratusan pekerja ditahan dan diperlakukan tidak manusiawi, sampai akhirnya Trump mengakui kesalahan.
Menteri Perindustrian Korea Selatan, Kim Jung-kwan, secara tegas menyebut tindakan Hyundai sangat disesalkan, terutama mengingat Korea Selatan telah melakukan berbagai upaya demi kepentingan industri otomotif dan baja dalam negeri.
Ia menegaskan bahwa pemerintah sudah mendapat tekanan publik, dan menyampaikan bahwa Hyundai menyadari dan memahami dengan baik bagaimana masyarakat Korea merasa kecewa atau khawatir atas langkah investasinya di Amerika Serikat.
Di balik kritik itu terselip kekhawatiran bahwa investasi masif sekarang akan melemahkan daya tawar Korea Selatan ketika berdialog soal tarif impor mobil ke Amerika Serikat.

Taksi otonom Hyundai Ioniq 5 Robotaxi siap meluncur akhir 2023 (Carscoops0
Sementara itu, salah satu anggota parlemen independen, Kim Jong-min, mengajukan pertanyaan provokatif, bukankah negosiasi tarif antara Korea dan Amerika Serikat pada dasarnya adalah negosiasi yang berkaitan dengan Hyundai?.
Dirinya berpendapat bahwa Hyundai sebagai aktor utama dalam industri mobil, membuat langkahnya berpengaruh sangat besar terhadap negosiasi bilateral. Jika Hyundai terlalu agresif berinvestasi, dan mengatakan cara Hyundai merespons tidak membantu proses negosiasi. Persepsi ini menggarisbawahi bahwa keputusan korporat tidak bisa dilepaskan dari gejolak politik dan ekonomi antarnegara.
Kritik ini juga mengemuka di tengah insiden kontroversial, dua minggu sebelum pengumuman investasi tambahan, pabrik Hyundai di Georgia digeledah oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS, dan ratusan pekerja asal Korea sempat ditahan.
Bagi banyak kalangan, pengumuman investasi setelah insiden itu terlihat seperti upaya meredam ketegangan, atau bahkan mencari jalan terbaik dari pemerintahan AS.
Menguatkan kekhawatiran tersebut, sumber dari South China Morning Post menyebut bahwa pejabat Korea sudah berselisih dengan pihak AS terkait investasi sekitar US$ 350 miliar dari perusahaan-perusahaan Amerika, dalam rangka membuka tarif otomotif Korea.
