Baterai Sodium-Ion Bisa Mulai Produksi Massal 2026

JAKARTA, AVOLTA – Teknologi baterai sodium-ion (ion natrium) kini semakin mendapat sorotan dalam industri energi baru. Bahkan, di forum ‘Sodium-Ion Battery Industry Chain and Standards Development Forum’ 2025, para pakar menyebut bahwa baterai ini sedang bergerak dari tahap demonstrasi menuju komersialisasi skala besar.
Berdasarkan laporan dari Carnewschina, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, posisi pasar baterai sodium-ion diperkirakan akan semakin menguat.
Para ahli sepakat bahwa pada 2026, kemungkinan akan menandai dimulainya aplikasi komersial skala besar, ketika nilai bisnis menjadi lebih nyata.
Menurut Li Jinghong dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, baterai sodium-ion sebaiknya tidak dibandingkan secara langsung untuk menggantikan baterai lithium-ion. Alih-alih, keunggulan uniknya, seperti daya besar, performa bagus di suhu rendah, keamanan tinggi, serta biaya relatif rendah, membuatnya lebih cocok sebagai solusi pelengkap atau alternatif untuk aplikasi tertentu.
Baterai jenis ini sangat potensial digunakan untuk kendaraan hibrida, sistem penyedia daya darurat (UPS), regulasi frekuensi dalam penyimpanan energi, hingga sebagai pengganti baterai timbal-asam.
Beberapa perusahaan besar sudah mulai merangkul teknologi ini. CATL, misalnya, telah meluncurkan baterai sodium-ion berskala besar yang bisa digunakan pada sistem penggerak kendaraan penumpang dan baterai starter truk berat.
CATL juga mengklaim bahwa baterai sodium-ion tersebut mencapai densitas energi sekitar 175 Wh/kg, memungkinkan jangkauan lebih dari 500 km dalam kondisi tertentu.
Dari sisi biaya, estimasi produksi massal saat ini berada di kisaran 0,4–0,5 yuan atau sekitara Rp 0,92 sampai Rp 1,15 per Wh, namun para ahli memperkirakan angka ini bisa turun ke sekitar 0,3 yuan atau Rp 0,69 per Wh seiring peningkatan skala produksi dan efisiensi.
