Ambisi Malaysia Jadi Pusat Produksi EV Asia Tenggara

JAKARTA, AVOLTA – Malaysia berharap menjadi pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara, dengan melihat potensi pengalamannya selama 40 tahun dalam pembuatan mobil sejak 1983. Selain itu, Negeri Jiran ini juga memiliki industri semikonduktor yang kuat, untuk bisa jadi modal mencapai target tersebut. Demikian dikatan Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Internasional (MITI), Liew Chin Tong.

Menurut The Edge, yang disitat dari Paultan, pernyataan sang pejabat, Malaysia bermaksud untuk mendorong integrasi yang lebih besar antara sektor otomotif dan semikonduktor, dengan tujuan menjadi pusat utama untuk chip kelas otomotif.

“Malaysia adalah tempat yang sangat menarik, kami adalah eksportir produk semikonduktor terbesar keenam di dunia. Meskipun kami mungkin tidak memiliki merek lokal, kami memainkan peran yang sangat besar terutama di sektor backend,” katanya.

Sementara itu, Liew juga mengatakan selama kunjungannya ke Detroit tahun lalu, ia juga diberitahu oleh Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Gina M Raimondo, bahwa pabrik otomotif di negara tersebut terpaksa tututup karena Malaysia menerapkan Perintah Kontrol Pergerakan (MCO) selama pandemi Covid-19 lalu.

“Hal ini karena chip yang mereka andalkan berasal dari Malaysia, dan beberapa perusahaan semikonduktor di Malaysia berkontribusi besar dalam chip otomotif global. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang industri otomotif, terutama elektrifikasi mobilitas, penting bagi kita untuk tidak bekerja sendiri-sendiri atau hanya berfokus pada vertikal tertentu,” tegasnya.

“Saya ingin melihat industri ini saling bersilangan secara horizontal, (mendorong) terciptanya produk baru, desain sirkuit terpadu, dan chip otomotif yang merupakan produk kebanggaan Malaysia. Ini akan memungkinkan kita tidak hanya mengekspor suku cadang otomotif, tetapi juga chip otomotif,” tambahnya.

Liew juga menyebutkan, bahwa Malaysia siap untuk mencapai target pemerintah untuk kendaraan listrik, guna mencapai 20% dari total volume industri (TIV) pada 2030, 50% pada 2040, dan 80% pada 2050.

“Meskipun terlihat ambisius, terutama karena kita memulai dari basis yang rendah, Prospek EV global tahunan Badan Energi Internasional menyoroti beberapa tren utama, EV hanya mencapai 2% dari TIV secara global pada 2018,” pungkasnya.

CATEGORIES
TAGS