Jurus Jitu tekan Harga Mobil Listrik yang Mahal

Siemens Mulai Investasi di Faslitas Carjer Mobil Listrik (Reuters)
JAKARTA, AVOLTA – Tren penjualan mobil listrik secara global memang menunjukan pertumbuhan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Secara total, mobil bertenaga baterai du dunia, telah terkirim sebanyak 7,37 juta unit atau naik 66% dibanding 2021.
Peningkatan penjualan mobil listrik ini, karena imbas dari subsidi bantuan dari pemerintah di masing-masing negara pasar.
Dijelaskan Andy Palmer, Chief Operating Officer Nissan, tanpa subsidi harga mobil listrik masih terlalu mahal. Pasalnya, harga roda empat ramah lingkungan ini, memang masih terbebani banderol baterai sebagai komponen termahal.
Namun menurut Palmer, harga baterai saat ini bisa ditekan jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Tapi, harganya masih tetap terlalu mahal ketika dijual, khususnya secara retail.
“Baterai telah turun dari sekitar US$ 1.000 (Rp 15,51 juta) per kWh pada saat itu dan hari ini saya akan memberikan harga sekitar US$ 150 (Rp 2,32 juta),” ujar Palmer dikutip dari Autocar, Senin (7/11/2023).
Di sisi lain, kebutuhan akan baterai di mobil listrik memang lebih besar dibanding hybrid. Jadi, jika diasumsikan produsen memerlukan baterai 60 kWh untuk satu mobil listrik dengan jarak tempuh di atas 200 km, artinya 1 baterai mobil listrik tersebut dibanderol US$ 9.000 atau setara Rp 139 juta.
Melihat hal tersebut, untuk membaut mobil listrik dengan harga terjangkau, tentu saja dengan memangkas harga baterai. Jadi, penggunaan baterai yang lebih kecil dan ringan, bisa jadi salah satu jurus menekan harga jual. Tapi, cara ini diperlukan infrastruktur pengisian daya yang baik.
“Solusi untuk mobil listrik yang terjangkau tidak menunggu teknologi menjadi matang, tidak perlu bermain-main dengan kimia: cukup dengan menggunakan baterai yang lebih kecil. Tetapi untuk memiliki baterai yang lebih kecil, Anda memerlukan infrastruktur pengisian daya dan itulah kuncinya,” tukas Palmer.
