Solusi Agar Emisi Karbon BEV Lebih Rendah dari Hybrid

Toyota menyiapkan kendaraan listrik, mulai dari BEV dan PHEV di Danau Toba. (TAM)

JAKARTA, AVOLTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyatakan, emisi karbon yang dihasilkan mobil listrik baterai alias BEV lebih tinggi dibanding hybrid atau pun internal combusition engine (ICE). Alasannya, karena sumber listrik yang digunakan masih bersumber dari fosil, karena masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Selain itu, emisi karbon yang tercipta dari proses produksi bahan mentah sampai terjadi baterai, BEV  tercatat yang paling besar dampaknya.

Dijelaskan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang kartasasmita, dampak emisi selama siklus hidup kendaraan sangat dipengaruhi oleh energi listrik yang digunakan. Dengan begitu, dibutuhkan upaya untuk mengurangi emisi dari BEV.

“Harapannya dekarbonisasi sektor kelistrikan dapat membantu mengurangi penggunaan fase emisi pada BEV,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Minggu (15/10/2023).

Agus lantas memberikan perbandingan berdasarkan studi Polester dan Rivian pada 2021 di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik yang dilaporkan oleh Polester and Rivian Pathway Report (2023).

Dalam studi tersebut disebutkan, selama siklus hidupnya, kendaraan listrik 39 tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e), kendaraan listrik hybrid (HEV) sebesar 47 tCO2e, dan kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE) mencapai 55 tCO2e.

Toyota Bawa Platform Mobil Listrik Baru ke Japan Mobility Show 2023 (Toyota Global)

Life Cycle Emissions menunjukan jumlah total gas rumah kaca dan partikel yang dikeluarkan selama siklus hidup kendaraan yang mulai dari produksi, penggunaan, hingga pembuangan.

Kendaraan ICE memiliki faktor emisi gas buang saat pemakaian (tailpipe emissions) sebanyak 32 tCO2e atau sekitar 57 persen dari total siklus hidup, sedangkan kendaraan hybrid sebanyak 24 tCO2e atau sekitar 51 persen.

Sementara itu, tailpipe emissions dari mobil listrik atau BEV mencapai 26 tCO2e atau sekitar 66,7 persen dari siklus hidup kendaraan lantaran adanya faktor produksi energi listrik sebagai faktor utama penghasil emisi.

Selain itu, terdapat jejak karbon dari produksi baterai untuk BEV dan hybrid yang masing-masing mencapai 5 tCO2e dan 1 tCO2e. Hal ini lantaran produksi baterai dan komponen lainnya membutuhkan mineral tambang dan energi yang signifikan.

CATEGORIES
TAGS