Strategi Indonesia Hadapi Ancaman Daur Ulang Baterai Eropa

JAKARTA, AVOLTA – Muncul rumors Uni Eropa akan mewajibkan penggunaan baterai daur ulang. Tahun awal produksi baterai EV dari ASEAN masih dapat masuk ke Eropa. Akan tetapi, ketika sudah terkumpul, Eropa akan mengambil sisa inti dari baterai bekas untuk kemudian dijadikan resources dan diproses menjadi bahan baku baterai sendiri.
Pemerintah Indonesia pun tidak akan tinggal diam, dan akan menyiapkan strategi untuk menghadapi ancaman tersebut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai Indonesia masih bisa bersaing dalam industri baterai kendaraan listrik meski terdapat tantangan di pasar ekspor.
Menurut Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana, hal tersebut dapat dilakukan dengan memproduksi baterai EV dengan kualitas mumpuni dan membangun industri litium di Indonesia.
“Dengan memaksimalkan impor tersebut dan membuat sebuah industri, bukan tidak mungkin Indonesia dapat bersaing atau bahkan melampaui Thailand pada sisi produksi baterai EV,” ujar Agus belum lama ini di Jakarta.
Agus menjelaskan, bahwa nantinya selain dapat memproduksi litium sendiri, Thailand akan mengekspor nikel ke Indonesia untuk baterai EV yang dikembangkan. Sebab, dalam pembuatan baterai EV dibutuhkan 18% nikel dan untuk litium sendiri hanya 4%.
“Orang yang membuat litium ke Indonesia tentu sudah punya kerja sama dengan Australia. Kalau dia bikin disini tentu akan lebih menguntungkan dan kita bisa bersaing dengan Thailand,” ungkap Agus.
Agus menambahkan, maka dari itu pemerintah harus bergerak cepat untuk membangun industri litium di Indonesia. Tidak hanya pemerintah, dirinya juga meminta pihak swasta yang ingin membangun ekosisten litium di Indonesia untuk segera merealisasikannya.
