Potensi Pasar EV ASEAN Tembus Rp 41,15 T di 2027

Toyota menyiapkan kendaraan listrik, mulai dari BEV dan PHEV di Danau Toba. (TAM)
JAKARTA, AVOLTA – Kendaraan listrik terus didorong penggunaannya di negara Asia Tenggara. Sejalan dengan hal tersebut, sebagai implementasi dalam menjaga ketahanan energi, ASEAN juga berupaya menerapkan elektrifikasi transportasi dan penggunaan energi terbarukan.
Bahkan, Presiden Joko Widodo juga meyakini, bahwa ASEAN akan dapat mengembangkan kendaraan listrik di kancah global. Hal ini, didukung dengan potensi unggu ASEAN dalam pengembangan kendaraan listrik yang memiliki perkiraan pasar sebesar US$ 2,7 miliar atau setara Rp Rp 41,15 triliun pada 2027.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pengembangan kendaraan listrik memiliki peran besar terhadap kelestarian lingkungan.
“Mulai dari pengurangan emisi gas rumah kaca, percepatan transisi energi, dekarbonisasi sektor transportasi darat, pencapaian target nol emisi, hingga peningkatan ketahanan energi di kawasan ASEAN,” ujar Airlangga, saat menyampaikan keynote speech secara virtual di acara ASEAN Climate Forum 2023, ditulis Senin (3/9/2023).
Dalam rangka mendorong pengembangan kendaraan listrik di kawasan ASEAN, negara-negara anggota ASEAN telah sepakat untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dan menjadi bagian penting dalam rantai pasokan dunia, dengan menekankan pada industri hilirisasi.
Salah satu wujud konkret upaya tersebut telah ditunjukkan dengan disepakatinya perjanjian kerja sama yang tertuang dalam ASEAN Leaders’ Declaration on Developing Regional Electric Vehicle (EV) Ecosystem pada KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada beberapa saat yang lalu.
Adapun kerja sama dan kolaborasi pengembangan kendaraan listrik tersebut meliputi peningkatan infrastruktur dan pengisian daya, menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif untuk menarik investasi, mengoptimalkan produksi dan penggunaan material dan sumber daya berkelanjutan untuk mencapai penciptaan nilai yang lebih tinggi dari rantai pasokan kendaraan listrik, serta mempromosikan penggunaan energi terbarukan di negara-negara ASEAN.
Lebih lanjut, Indonesia sendiri juga memiliki peran penting dalam mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu ke hilir dengan target produksi sebanyak 600 ribu unit mobil listrik dan 2,45 juta sepeda motor listrik per tahun pada 2030 mendatang.
Dengan berbagai target tersebut, Indonesia diprediksi mampu membantu dalam mengurangi emisi karbon hingga 3,8 juta ton.
