Insentif Bisa Jadi Kunci Perkembangan EV di Indonesia

JAKARTA, AVOLTA – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia, memang masih memiliki beberapa hambatan dan rintangan sebelum berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Dijelaskan CEO Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani, salah satu tantangan yang muncul, adalah pengolahan baterai kendaraan listrik yang membutuhkan biaya yang cukup besar, dan juga menggunakan teknologi yang canggih. Kemudian, terbatasnya infrastruktur pembangunan baterai juga menjadi tantangan tersendiri.
“Perlu adanya dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam rangka percepatan kendaraan berbasis listrik yang tidak hanya berbentuk infrastruktur, tapi juga regulasi serta produksi,” ujar Johanna dalam keterangan tertulis, Jumat (8/9/2023).
Lanjutnya, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan dukungan dengan regulasi dan insentif pendukungnya. Dengan begitu, minat investor untuk mengucurkan modalnya di Indonesia bisa terealisasi.
Selain itu, subsidi harga juga dapat menarik minat masyarakat untuk beralih kepada kendaraan listrik.
“Kebijakan peralihan penggunaan bahan bakar minyak menjadi kendaraan motor listrik, tentunya membawa dampak positif bagi Indonesia yang memiliki cadangan bahan baku nikel terbesar di dunia, yang kita harapkan nantinya dapat menguasai pasar bahan baku baterai secara global”, tambah Johanna.
Sementara itu, insentif untuk perkembangan kendaraan listrik di Tanah Air, juga telah banyak diberikan oleh pemerintah. Salah satunya, subsidi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk mobil listrik, dari 11% dipotong 10% jadi hanya 1%.
Kemudian, revisi terkait subsidi motor listrik, sebesar Rp 7 juta yang syaratnya kini hanya tinggal 1 KTP, dan dapat dinikmati semua masyarakat bukan hanya golongan tertentu saja.
