Gaikindo Ikut Lobi Pemerintah Demi Insentif Hybrid

Emblem Wuling Almaz hybrid di bagian belakang. (Wuling)
TANGERANG, AVOLTA – Pemerintah Indonesia hanya memberikan insentif kepada produsen otomotif yang menjual mobil listrik berbasis baterai alias battery electric vehicle (BEV). Teknologi lain seperti hybrid, plug-in hybrid, hingga hidrogen dipasarkan tanpa bantuan dari pemerintah.
Sebagai asosiasi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) terus mengupayakan agar pemerintah bisa memberikan insentif kepada produsen yang menjual mobil hybrid.
Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menuturkan, pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari solusi lebih baik untuk insentif kendaraan listrik. Menurut dia, tentunya akan lebih bagus jika pemerintah memberikan bantuan kepada kendaraan hybrid.
“Kita sudah bicara soal insentif hybrid ini dan duduk bersama dengan pemerintah,” ucap Nangoi di GIIAS 2023, belum lama ini.
Nangoi melanjutkan, tentunya Gaikindo sudah memberikan masukan kepada pemerintah tentang teknologi hybrid yang juga bisa membantu mencapai target emisi nol pada 2050. Lebih jelasnya kata dia belum bisa diinformasikan, karena menunggu kepastian dari instansi terkait.
“Pak Menteri Perindustrian bilang bahwa yang namanya insentif untuk mobil listrik akan direvisi dan akan dikeluarkan juklak [petunjuk pelaksana] barunya sesegera mungkin dalam sebulan dua bulan bisa keluar. Harusnya tahun ini bisa beres,” tutur Nangoi.
Nangoi pun mengakui bahwa tidak bisa 100 persen harus beralih menggunakan kendaraan listrik murni, karena banyak faktor yang termasuk segmen komersial yang membutuhkan berjalan hingga ratusan kilometer ketika menganggut barang.
“Mobil komersial atau militer itu sepertinya akan berat jika menggunakan mobil listrik,” kata Nangoi.
