Demi Mobil Listrik, Jepang Berburu Kobalt di Afrika

Berbagai model andalan Toyota berteknologi PHEV dan BEV pakai platform e-TNGA. (Toyota)
JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah Jepang mulai fokus mengembangkan kendaraan listrik untuk masa depan. Salah satu langkah yang sudah dilakukan, yaitu berburu kobalt dan litium di Afrika, dan memproduksinya di dalam negeri.
Sejauh ini pemerintah Jepang seperti dikutip dari laman Nikkeiasia, Jumat (4/8/2023), telah melakukan kontrak kerja sama dengan berbagai negara di Afrika guna mengamankan rantai pasok material baterai mobil listrik dan kendaraan listrik.
Pemerintah Jepang berencana untuk bekerja sama dengan tiga negara Afrika untuk mengembangkan rantai pasokan kobalt dan mineral lain yang penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.
Tokyo akan bekerja sama dengan Zambia, Republik Demokratik Kongo, dan Namibia untuk memperluas eksplorasi bersama di setiap negara. Proyek-proyek tersebut akan dimulai segera pada tahun ini.
Organisasi Jepang untuk Keamanan Logam dan Energi (Japan Organization for Metals and Energy Security/Jogmec) segera menandatangani nota kesepahaman dengan Zambia. Jogmec juga akan menyelesaikan rencana kerja dengan Kongo dan Namibia berdasarkan kesepakatan awal yang telah dicapai dengan kedua negara.
Yasutoshi Nishimura, Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang mengatakan akan mengunjungi tiga negara, bersama dengan Angola dan Madagaskar, selama tur delapan hari di Afrika yang akan berakhir 13 Agustus. Penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian lainnya akan bertepatan dengan rencana perjalanan.
Meskipun Jogmec aktif di Zambia, Kongo, dan Namibia, tidak ada perusahaan swasta Jepang yang memasuki negara-negara tersebut untuk mengembangkan proyek pertambangan mineral penting karena berbagai risiko dan modal besar yang dibutuhkan. Upaya yang dipimpin pemerintah untuk mengembangkan sumber daya terlihat membantu menarik investasi swasta.
Jepang dan Zambia akan mulai menjelajahi seluruh negara Afrika, memperluas cakupan pencarian dari kobalt dan tembaga hingga memasukkan nikel. Melalui Jogmec, Jepang akan menyediakan teknologi penginderaan jauh untuk mengidentifikasi lokasi penambangan potensial menggunakan citra satelit.
