Gaikindo Skeptis soal Bioetanol, Gula Saja Masih Impor

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi (tirto.id)
JAKARTA, AVOLTA – Bahan bakar minyak (BBM) jenis baru, yaitu Bioetanol belakangan ini menjadi perbincangan masyarakat, terutama di industri otomotif. Tentunya ada yang pro dan juga kontra dengan rencana PT Pertamina (persero) yang akan menjual Bioetanol itu.
Salah satu yang masih belum percaya, adalah Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Menurut Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi, instansinya belum yakin jika pasokan tebu di Indonesia dapat memenuhi permintaan Pertamina sebagai campuran bioethanol.
Pria yang akrab disapa Nangoi itu mengatakan, industri gula di Indonesia banyak tertolong skema impor.
“Tebunya juga masih kurang, bikin gula saja masih kurang, masih impor. Jadi tentunya harus ditemukan dulu bioetanol mau dari mana,” tutur Nangoi belum lama ini di Kawasan Jakarta Selatan.
Maka dari itu, Nangoi pun menilai ketersediaan tebu yang ada sekarang ini bisa jadi tidak akan cukup jika harus dibagi kembali untuk memenuhi kebutuhan campuran BBM jenis bioetanol.
“Tidak mungkin cukup, karena Indonesia saja masih kurang, penghasilan tebunya masih kurang,” kata Nangoi.
Sementara itu, mengacu pada data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 20 persen kebutuhan gula konsumsi dalam negeri berasal dari impor. Sementara kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman 100 persen berasal dari impor.
Kementerian Perdagangan turut mencatat total gula yang diimpor saat ini cenderung bertambah dari 2004. Kini impor gula dari awalnya 1 juta ton sampai 2 juta ton naik menjadi 5 juta ton per tahun.
