Penjualan Melambat, Insentif Mobil Listrik di Cina Diperpanjang

Industri Otomotif Cina (Carnewschina)
JAKARTA, AVOLTA – Sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia ikut memberikan program insentif pembelian untuk kendaraan listrik.
Namun, kebijakan masing-masing berbeda seperti di Cina tidak hanya fokus pada battery electric vehicle (BEV) melainkan buat semua kendaraan rendah emisi atau kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV)
Tentunya kebijakan ini berbeda dengan Indonesia yang insentifnya khusus untuk mobil dan sepeda motor listrik. Padahal banyak teknologi ramah lingkungan lain seperti plug-in hybrid dan sejenis.
Melansir laman Reuters, Sabtu (24/6/2023), pemerintah Cina menggulirkan paket insentif pajak terbaru untuk kendaraan ramah lingkungan senilai 520 miliar yuan, setara 72,3 miliar dollar AS.
Paket insentif ini merupakan yang terbesar sejauh ini. Alasannya, kebijakan agresif tersebut diambil guna mendorong pertumbuhan penjualan mobil yang belakangan melambat.
“Perpanjangan empat tahun lagi [program insentif] mengalahkan ekspektasi pasar,” ungkap Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Cina.
Tentunya dengan adanya paket baru ini akan memperluas pembebasan pajak pembelian NEV saat ini yang berakhir pada akhir 2023. NEV mencakup BEV semua baterai, PHEV (Plug In Hybrid), dan FCEV (Fuel Cell) yang berbahan bakar hidrogen.
“Keringanan pajak NEV kumulatif, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2014 dan diperpanjang tiga kali baru-baru ini pada tahun 2022, melebihi 200 miliar yuan pada tahun lalu,” ujar Wakil Menteri Keuangan Xu Hongcai pada konferensi pers.
