Pengembangan Ekosistem EV di Indonesia Meragukan

Ekonom Indonesia Faisal Basri menyatakan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia meragukan. (Kumparan)

JAKARTA, AVOLTA – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri, meragukan pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Menurut dia, ke depan semua program yang dicanangkan tidak akan terlaksana.

Faisal menjelaskan alasannya, yaitu karena dalam membuat produk kendaraan listrik, Indonesia tidak bisa sendirian, terlebih komponen kendaraan yang digadang-gadang bisa kurangi emisi karbon ini tidak sedikit.

“Ingin mengembangkan industri, memang Indonesia punya sampai bijih nikel itu, tapi ingin punya ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir di Indonesia, tidak ada satu negara pun yang memproduksi 100% komponennya yang ribuan itu dari negaranya sendiri, jadi ya tidak bisa,” ungkap Faisal di Jakarta belum lama ini.

Menurut Faisal, Indonesia sekarang ini sedang menjajaki gejala dini deindustrialisasi atau penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap PDB.

Faktor lain yang bisa dilihat, yakni semakin besarnya porsi pekerja informal dalam struktur pekerjaan di Indonesia.

“Harusnya berkaca jika Indonesia sedang mengalami gejala dini deindustrialisasi seperti yang saya sebutkan tadi,” tutur Faisal.

Selain itu, Faisal juga menyebut pengembangan banyaknya komponen kendaraan listrik membutuhkan penelitian atau research and development (RnD) yang memadai. Sementara kini, menurutnya RnD Indonesia hanya 0,28% dari PDB.

CATEGORIES
TAGS