Cuma Modal Nikel, Indonesia Sulit Jadi Raja Baterai Dunia

JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah optimistis Indonesia mampu menjadi salah satu pemain penting di industri kendaraan listrik (EV) dunia. Bahkan, dengan menjadi salah satu penghasil nikel terbesar, menjadikan negara ini percaya diri bisa jadi raja baterai EV secara global.
Namun, meskipun memiliki modal yang cukup kuat dengan status negara penghasil nikel terbanyak, pemerintah harus mengakui bahwa hal tersebut tidak cukup menjadikan Indonesia sebagai pemimpin pasar baterai EV.
Seperti diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (RI), Luhut Binsar Pandjaitan saat bertemu dengan pengusaha litium di Australia.
Dirinya mengakui, Indonesia belum mampu menjadi raja baterai EV dunia, karena tidak memiliki nikel.
“Meskipun Indonesia kaya akan nikel, nampaknya hal ini belum mampu menjadikan Indonesia sebagai raja baterai kendaraan listrik dunia karena tidak tersedianya lithium yang notabene menjadi bahan utama pengembangan industri baterai EV,” ujar Luhut, dikutip dari keterangan di akun instagram resminya, rabu (15/4/2023).

Melihat kondisi tersebut, memang diperlukan kolaborasi dengan pihak lain untuk tetap bisa mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi penguasa industri baterai EV.
“Di hadapan para pengusaha Lithium, saya sampaikan bahwa Australia adalah kandidat terbaik dan partner potensial kami untuk mengembangkan industri baterai EV, karena setengah dari lithium dunia ada di negeri Kangguru,” tegas Luhut.
Sementara itu, bagi Australia yang merupakan penghasil lithium terbesar, bersedia memberikan dukungan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen baterai lithium di dunia. Kedua negara tersebut, berencana untuk bersama-sama mengembangkan industri baterai E, dengan tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Dalam momentum ini, saya juga mengajak beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor sumber daya mineral untuk bertemu dan menjajaki langsung potensi kerja sama dengan para pengusaha lithium di negeri kanguru,” tukas Luhut.
