Indonesia Kalah dari Thailand Soal Penjualan EV di ASEAN

Ilustrasi jeroan sistem penggerak pada Wuling Almaz hybrid. (Wuling motors)
JAKARTA, AVOLTA – Perkembangan kendaraan listrik secara global, ataupun secara khusus di Asia Tenggara terus melaju kencang. Beragam pabrikan roda empat, kini mulai banyak yang menawarkan model listrik, mulai dari baterai, hybrid, maupun plug-in hybrid (PHEV) sepanjang 2022.
Menurut laporan terbaru dari Global passenger Electric Vehicle Model Sales Tracker dari Counterpoint, penjualan kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara tumbuh 35% (tanpa menyebutkan angka detailnya).
Dari seluruh penjualann, mobil listrik murni alias BEV mendominasi pasar, hingga 61%, sisanya hybrid, dan PHEV.
Masih disitat dari data tersebut, negara yang menduduki peringkat pertama dengan penjualan kendaraan listrik terbanyak, adalah Thailand dengan menguasai hampir 59,2%.
Sedangkan Indonesia, berada di urutan kedua, dengan pasar sebesar 25,2%, disusul Singapura dengan 11,8%.

Bantu Operasional KTT G20, Wuling Serahkan 300 Unit Air EV ke Pemerintah (ist)
Analis Riset, Abhilash Gupta mengatakan, khusus di wilayah Asia Tenggara terus mengalami peningkatan permintaan untuk kendaraan listrik. Hal ini, disebabkan banyak negara yang mulai menerapkan kebijakan terhadap kendaraan emisi rendah.
“Saat beberapa dari mereka sedang menyiapkan atau berencana untuk mendirikan pabrik manufaktur di seluruh wilayah karena kebijakan, subsidi, dan insentif yang menguntungkan oleh negara-negara Asia Tenggara,” ujar Gupta.
Sementara itu, diklaim merek yang berhasil menjual kendaraan listrik terbanyak di wilayah Asia Tenggara, adalah Wuling dengan pangsa pasar sebesar 18,3 %. Kemudian, di urutan kedua adalah Volvo dengan pangsa pasar 14,4%. Sedangkan untuk BMW mampu meraih pasar sebesar 13,2%.
