Dampak Krisis Cip Tak Terlalu Dalam di Indonesia

Perakitan tangki hidrogen pada Toyota Mirai, Fuel Cell, di Jepang. (Toyota)

JAKARTA, AVOLTA – Industri otomotif dunia sejak setahun ke belakang dilanda krisis cip semikonduktor. Alhasil, banyak produsen otomotif yang mengalami gangguan produksi dan imbasnya konsumen harus menunggu lama untuk mendapatkan unit.

Kelanggan komponen ini dikarenakan permintaan selama masa pandemi Covid-19 meningkat drastis, karena bukan otomotif saja melainkan industri gadget juga melambung. Para produsen cip semikonduktor tidak bisa memenuhi permintaan yang sebanyak itu sehingga menglami krisis.

Meski kondisinya seperti itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, di Indonesia masih relatif aman terkait kelangkaan cip semikonduktor. Alasannya, karena kebanyakan mobil yang diproduksi berupa mobil konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE).

“Produksi mobil ICE saat ini relatif terjaga sehingga masa inden tidak terlampau lama buat konsumen di dalam negeri,” ungkap Airlangga belum lama ini di kawasan Senayan, Jakarta.

Menurut Airlangga, krisis cip itu akan berpengaruh jika di Indonesia sudah banyak produsen otomotif yang merakit mobil listrik. Sebab, membutuhkan perangkat elektronik yang lebih banyak dibandingkan dengan mobil bermesin konvesional.

“Kalau terkena imbasnya jelas, karena ini merupakan krisis global, tapi seberapa besarnya di Indonesia tidak terlalu tinggi, dan belum tahu kapan krisis ini akan berakhir,” tutur Airlangga.

CATEGORIES
TAGS