Trio Jepang Dapat Peringkat Buruk Soal Kendaraan Listrik

Toyota Kijang Innova EV Concept Study Car, diciptakan sebagai bahan riset menuju produk elektrifikasi. (TAM)
TOKYO, AVOLTA – Trio merek Jepang, Toyota, Honda, dan Nissan berada di peringkat terbawah dari studi Greenpeace baru, tentang upaya dekarboniasasi 10 produsen mobil.
Disitat Reuters, Kamis 98/9/2022), Greenpeace menempatkan Toyota di urutan paling buncit dari 10 pembuat mobil teratas dari segi volume penjulan. Hal tersebut, menunjukan bahwa kendaraan tanpa emisi atau listrik menghasilkan kurang dari 1% penjualan perusahaan asal Jepang tersebut.
Selain itu, Toyota mencatatkan kemajuan yang lambat dalam dekarbonisasi rantai pasokan.
Produsen mobil asal Negeri Matahari terbit ini, sering menjadi sasaran kritik dari aktivis dan investor hijau. Pasalnya, Toyota sendiri tidak menggunakan kendaraan listrik baterai (BEV) cukup cepat.
“Waktu untuk hibrida, saya pikir telah selasai,” ujar Daniel, Juru Bicara Kampanye iklim dan energi di Greenpeace, Jepang.
Pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, merakit mobil listrik Leaf. (Nissan)
Seorang juru bicara Toyota mengatakan, dalam sebuah pernyataan bahwa perusahaan sedang berupaya untuk memangkas emisi CO2 tinggi, dan secepat mungkin.
“Menambahkan bahwa mereka akan terus “melakukan segala upaya yang mungkin untuk menawarkan sebanyak mungkin pilihan (kendaraan listrik baterai) dan multi-powertrains lainnya untuk pelanggan kami di seluruh dunia,” tulis pernyataan dari Toyota.
Greenpeace mengatakan Honda tidak memiliki peta jalan untuk mencapai targetnya sendiri, termasuk membuat kendaraan tanpa emisi dan kendaraan sel bahan bakar 100% dari penjualan baru.

Honda e Limited Edition (Carscoops)
Kelompok lingkungan tersebut juga mengatakan penjualan kendaraan tanpa emisi belum tumbuh secara signifikan untuk Nissan, yang dianggap sebagai pelopor di pasar kendaraan listrik sepenuhnya dengan Leaf.
Seorang juru bicara Honda mengatakan akan terus bekerja menuju netralitas karbon pada tahun 2050. Seorang juru bicara Nissan menolak mengomentari laporan Greenpeace tetapi mengatakan perusahaan akan terus mempercepat upaya elektrifikasinya.
