Solusi Baterai EV Murah Ditemukan Pakai Aluminium

JAKARTA, AVOLTA – Penelitian yang dilakukan perguruan tinggi di sejumlah negara, yaitu Massachusetts Institute of Technology (MIT) serta 15 penulis lain dari Universitas Peking, Universitas Yunnan, Universitas Teknologi Wuhan, Universitas Louisville, Universitas Waterloo, dan Laboratorium Nasional Argonne mengklaim telah menemukan solusi untuk baterai lithium-ion yang mahal.
Peneliti dari MIT Sadoway, melansir laman RideApart, Jumat (15/9/2022), mengatakan, para peneliti itu ingin menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada baterai lithium-ion untuk penyimpanan stasioner skala kecil, dan akhirnya untuk penggunaan industri otomotif.
Dalam penemuannya, Sadoway tidak lagi menggunakan lithium tetapi beralih ke logam kedua yang paling banyak tersedia secara komersial dan paling melimpah di bumi, yakni aluminium.
“Komposisi baterai memprioritaskan efisiensi biaya dan sumber daya yang mudah diperoleh. Bahan-bahannya murah, dan barangnya aman—tidak bisa gosong,” ungkap Sadoway.
Menurut dia, baterai aluminium-sulfur sangat berpengaruh pada panas. Studi menunjukkan bahwa unit benar-benar mengisi daya 25 kali lebih cepat pada 110 derajat Celcius (230 derajat Fahrenheit) dibandingkan dengan 25 C (77 F).
Terlebih lagi, baterai menghasilkan panas selama periode pengisian dan pemakaian. Tentunya ini memungkinkannya untuk mempertahankan suhu operasi yang optimal sambil menjaga larutan garam dari pembekuan.
Sadoway melanjutkan, apabila pengujian ini terbukti menjanjikan, maka banyak yang berharap teknologi baru ini akan dapat mempercepat waktu pengisian daya dan adopsi sepeda motor listrik dalam waktu dekat.
