Nilai Investasi Kendaraan Listrik di Indonesia Sudah Rp 1,92 T

Pabrik Foxconn di China (Reuters)
JAKARTA, AVOLTA – Memasuki era elektrifikasi kendaraan bermotor, pemerintah Indonesia terus mendorong para pelaku industri otomotif untuk menanamkan investasi membuat pabrik dan memproduksi mobil serta sepeda motor listrik.
Dalam beberapa tahun terakhir, sudah ada sejumlah perusahaan yang berinvestasi di Indonesia, dan sampai sekarang nilainya diklaim tembus Rp 1,92 triliun.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier menjelaskan, bahwa nilai keseleuruhan itu merupakan akumulasi dari beberapa sektor transportasi, yaitu 4 perusahaan bus listrik, 3 perusahaan mobil listrik, dan 35 perusahaan roda dua dan tiga listrik.
Taufiek melanjutkan, untuk kendaraan bus listrik investasi yang masuk sudah berjumlah Rp 360 miliar dengan total kapasitas produksi per-tahun mencapai 2.400 unit. Investasi mobil listrik sudah dilakukan tiga pabrikan otomotif di dalam negeri, dengan kapasitas terpasang seluruhnya mencapai 14.000 unit per tahun, mencapai Rp 1,062 triliun.
Selanjutnya, sepeda motor listrik dan roda tiga listrik total investasinya tembus Rp 506 miliar. Jumlah tersebut disumbangkan oleh 35 perusahaan yang sudah memiliki fasilitas perakitan. Pada fasilitas dimaksud, dinyatakan bahwa kapasitas terpasang di pabrik total mencapai 1,04 juta unit per tahun.

“Tentunya dengan nilai investasi ini semua, Indonesia sudah siap masuk ke industri elektrifikasi. Sekarang ini tergantung penyerapan pasar, tadi kan sudah banyak instrumen-instrumennya yang dibuat. Mudah-mudahan ya berjalan lebih cepatlah,” tutur Taufik belum lama ini di Jakarta.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan juga mengatakan, Indonesia siap memproduksi baterai untuk 3 juta kendaraan listrik.
Luhut dengan tegas mengatakan bahwa investasi di Kaltara Industrial Estate menyentuh US$132 miliar. Di kawasan tersebut, akan dibangun juga solar panel 10 GW hingga 11 ribu GW hydro power.
“Dulu kita hanya ekspor ini saja (bijih nikel), sekarang kita sudah masuk sini (besi dan baja), nanti kita akan berada di sini (baterai untuk kendaraan listrik). Kuartal III 2024 kita akan memproduksi lithium battery,” ungkap Luhut di Jakarta.
