Lambat Adaptasi EV, Indonesia Bisa Kehilangan Pasar Ekspor

Ilustrasi ekspor perdana di Patimban. (indoshippinggazette.com)
JAKARTA, AVOLTA – Industri otomotif secara global, kini tengah bergerak cepat dari kendaraan konvensional menuju listrik atau electric vehicle (EV). Kondisi sama juga harus dilakukan oleh pelaku industri otomotif Indonesia, karena jika tidak akan jadi ancaman yang besar.
Direktur Jenderal Industri Logam, Metal, Alat Transportasi, dan Elektronik (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan, produsen otomotif dan komponen yang tidak melakukan perpindahan secara perlahan serta melakukan adaptasi menuju era kendaraan listrik bakal menjadi ancaman pada masa mendatang.
“Maka akan jadi sebuah ancaman besar,” ujar Taufiek, di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2022, Selasa (17/8/2022).
Lanjut Taufiek, ancaman besar ini, bisa kepada pasar ekspor Indonesia yang berjumlah 80 negara. Namun, jika semua produsen komponen telah siap beralih ke kendaraan listrik, maka ekspor ke-80 negara tersebut bisa terjaga dan malah mampu ditingkatkan.

Jejeran Unit Produksi Daihatsu bermerek Toyota di Fasilitas Vehicle Logistic Center, Sunter siap ekspor ke mancanegara. (ADM)
Kondisi peralihan ke kendaraan listrik ini, tentunya menjadi tantangan besar untuk industri elektrifikasi otomotif Indonesia.
Pada saat bersamaan, menjadi peluang besar bagi produsen komponen otomotif nasional, mengingat Indonesia masih terlalu fokjus untuk produksi komponen kendaraan internal combasition engine (ICE).
“Perlu kita lihat ke pasar global, selain menghadapi tantangan besar soal bagaiman industri otmotif nasional berganti ke elektrifikasi otomotif, juga menjadi kesempatan bagi produsen komponen otomotif nasional, untuk mulai berganti untuk mencari komponen yang bisa mereka produksi untuk kendaraan listrik,” pungkasnya.
