Pasar LCGC Tertekan, Pemerintah Bilang Perlu Perhatian Khusus

JAKARTA, AVOLTA – Pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan. Pemerintah pun mengakui kondisi tersebut dan menilai segmen mobil ramah lingkungan berharga terjangkau itu tengah berada dalam tekanan serius sehingga membutuhkan perhatian khusus.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa performa penjualan LCGC yang saat ini diisi oleh merek Toyota, Daihatsu, dan Honda, mengalami pelemahan sepanjang 2025. Hal tersebut terlihat dari data distribusi kendaraan yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Berdasarkan catatan Gaikindo, penyaluran LCGC ke jaringan dealer selama 2025 turun hingga 31 persen. Total distribusi tercatat hanya 122.686 unit, merosot dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 176.766 unit. Penurunan tersebut menandakan tekanan pasar yang cukup berat di segmen LCGC.

“Ini menunjukkan LCGC sedang mengalami tekanan,” ujar Agus saat ditemui di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mempertimbangkan langkah dukungan fiskal untuk kembali mendorong minat pasar. Namun, Agus belum merinci apakah dukungan tersebut akan berupa insentif baru atau kelanjutan kebijakan yang saat ini berlaku.

Sebagai catatan, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 5/PMK.010/2022, LCGC dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen, naik dari sebelumnya nol persen. Meski demikian, tarif tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan mobil konvensional lain yang dikenai PPnBM hingga belasan persen.

“Pemerintah tentu akan terus memberikan perhatian terhadap pemulihan pasar LCGC melalui kebijakan fiskal yang efektif,” kata Agus.

Di sisi lain, Agus juga menyoroti tren positif pada kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Sepanjang 2025, permintaan mobil listrik berbasis baterai mengalami lonjakan signifikan.

Data Gaikindo mencatat, wholesales mobil listrik murni pada 2025 melonjak hingga 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya membukukan penjualan 43.188 unit.

Sementara itu, penjualan mobil hybrid tumbuh 10 persen menjadi 65.943 unit, sedangkan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 3.775 persen dengan total 5.270 unit.

Menurut Agus, tren tersebut mencerminkan pergeseran preferensi konsumen menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Perkembangan ini dinilai sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target net zero emission paling lambat pada 2060.

“Terjadi pergeseran yang cukup signifikan menuju kendaraan ramah lingkungan, dan ini selaras dengan arah kebijakan nasional,” katanya.

CATEGORIES
TAGS