Studi Baru: Minat EV dan Hybrid Melambat, Konsumen Kembali Lirik ICE

JAKARTA, AVOLTA – Di tengah gencarnya dorongan elektrifikasi, preferensi konsumen global justru menunjukkan sinyal berbalik arah.

Mengutip Carscoops, Selasa (16/12/2025) studi terbaru mengungkap, semakin banyak calon pembeli mobil yang kembali mempertimbangkan kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).

Berdasarkan laporan Firma jasa profesional EY (Ernst & Young), mencatat perlambatan adopsi EV di berbagai pasar utama dunia. Salah satu faktor pemicunya, perubahan kebijakan di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS), yang dinilai semakin memberi ruang bagi kendaraan konvensional.

Survei yang melibatkan konsumen yang berencana membeli mobil baru maupun bekas dalam dua tahun ke depan menunjukkan sekitar 50% responden masih memilih kendaraan bermesin pembakaran internal. Angka tersebut meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan perubahan preferensi yang cukup signifikan.

Sebaliknya, minat terhadap mobil listrik murni berbasis baterai mengalami penurunan. Lembaga survei ini mencatat ketertarikan konsumen terhadap EV turun 10% dan kini hanya berada di kisaran 14% secara global.

Penurunan minat juga terjadi pada segmen kendaraan hybrid. Preferensi konsumen terhadap model hybrid merosot 5% dan saat ini berada di level 16%. Bahkan, dari konsumen yang masih memasukkan EV dalam daftar pertimbangan, sekitar 36% mengaku menunda atau meninjau ulang rencana pembelian mereka.

Situasi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan disebut menjadi alasan utama sikap wait and see tersebut. Tren ini diperkirakan berlanjut seiring perubahan kebijakan di sejumlah negara besar.

Sebagai contoh, kurang dari satu tahun sejak Presiden Donald Trump memulai masa jabatan keduanya, pemerintah AS mulai menerapkan kebijakan yang lebih berpihak pada kendaraan bermesin pembakaran internal.

Salah satu langkah krusial, yakni pencabutan standar Corporate Average Fuel Economy (CAFE) pada awal bulan ini.

Dengan dicabutnya regulasi tersebut, produsen otomotif kini memiliki keleluasaan lebih besar untuk kembali memproduksi model-model bermesin konvensional. Kondisi ini diyakini akan memengaruhi perilaku konsumen sekaligus arah strategi dan portofolio produk pabrikan otomotif dalam beberapa tahun ke depan.

 

CATEGORIES
TAGS