Perang Brutal Mobil Listrik Cina Seret industri Menuju Krisis

Ilustrasi produksi mobil listrik di Cina. (BBC)

JAKARTA, AVOLTA – Industri otomotif Cina, saat ini tengah mendapatkan tekanan masif. Laporan terbaru mengungkapkan, pasar Tiongkok kini tengah mengalami kelebihan kapasitas produksi, insentif yang terlalu agresif, dan persaingan harga yang tak terkendali.

Disitat dari Reuters, masalah utama, bermula dari kebijakan industrial yang mendorong produksi kendaraan, terutama kendaraan energi baru (NEV), tanpa disesuaikan dengan permintaan domestik yang seimbang.

Kondisi ini memaksa beberapa dealer mengambil langkah ekstrem. “Menjual mobil itu meskipun dengan harga murah akan membuatnya memenuhi bonus sekitar 80.000 yuan atau sekitar Rp 182 juta, dan hampir impas,” kata seorang pemilik dealer.

Sebagai contoh nyata, showroom di pinggiran kota besar menampilkan stok sekitar 5.000 unit mobil dengan diskon besar, seperti SUV tujuh penumpang dari produsen Negeri Tirai Bambu dilepas dengan harga sekitar Rp 364 juta,  terpangkas lebih dari 60% di bawah harga aslinya.

Persaingan harga yang semakin brutal makin memperparah situasi. Beberapa merek bahkan harus mendaftar massal kendaraan yang belum terjual, agar terhitung sebagai terjual, kemudian menjualnya sebagai mobil bekas padahal odometernya masih nol kilometer agar keuntungan bonus kelompok tercapai.

Analis industri memperkirakan hanya sekitar 15 dari 129 merek mobil listrik atau hibrida yang beredar di Tiongkok, yang akan mampu bertahan secara finansial hingga 2030.

CATEGORIES
TAGS