Bos Volvo: 3 Merek Cina Bakal Jadi Pemain Besar di Industri Mobil Listrik Dunia

JAKARTA, AVOLTA – Dalam wawancara dengan Bloomberg, CEO Volvo, Håkan Samuelsson, memberikan pernyataan jika transformasi menuju mobil listrik (EV) bukan sekadar tren sementara, melainkan sebuah perubahan yang pasti terjadi di industri otomotif global.

Menurutnya, dalam sekitar sepuluh tahun ke depan, hampir seluruh mobil akan beralih ke tenaga listrik dan harganya akan menjadi lebih murah.

Samuelsson juga menegaskan, dalam peralihan ke mobil listrik, bakal ada merek-merek baru, dari Cina yang bakal jadi pemimpin pasar, sama seperti saat Ford, General Motors, Toyota, dan Volkswagen menguasai industri mobil bensin beberapa waktu lalu.

Selain itu, dirinya memprediksi bahwa dua atau tiga merek asal Cina akan menjadi kekuatan besar dalam pasar EV global, yang otomatis akan memperkecil ruang bagi merek-merek tradisional dari Eropa dan Amerika.

Volvo Cars’ CEO Hakan Samuelsson portrayed at the Volvo Showroom, as Volvo Cars was listed on the Nasdaq stock exchange, in Stockholm, Sweden, October 29, 2021. Jonas Ekstromer/TT News Agency via REUTERS/File Photo

Tantangan tidak hanya datang dari sisi teknologi atau biaya produksi, melainkan juga dari regulasi, infrastruktur pengisian daya, dan perubahan selera konsumen. Samuelsson menganggap bahwa plug-in hybrid (PHEV) akan menjadi jembatan penting sampai infrastruktur charging EV tersebar luas.

“Industri otomotif akan beralih ke listrik – tidak ada jalan untuk mundur lagi,” uajr Samuelsson.

Volvo sendiri bukan berada dalam posisi netral di kompetisi ini. Dimiliki oleh grup asal Cina, Geely, membuat Volvo memiliki keunggulan strategis tersendiri di antara produsen Eropa lainnya.

Tidak hanya itu, perusahaan juga tengah mengejar efisiensi biaya dan memperkuat operasional regional agar lebih mampu menghadapi tantangan tarif impor serta preferensi lokal.

CATEGORIES
TAGS