Bukan Murah, Pengguna Mobil Listrik Utamakan Data Tahan Baterai

Ilustrasi baterai pada mobil listrik BMW. (BMW/drive.com)

JAKARTA, AVOLTA – Seiring dengan penggunaan kendaraan listrik yang mulai masif di Indonesia, ternyata konsumen tidak lagi hanya mementingkan harga murah. Dalam riset terbaru yang dilakukan Praxis, bagaimana kini preferensi pengguna terkait fungsi dan nilai jangka panjang sebuah produk, bukan sekedar harga murah.

Dalam survei berjudul ‘Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna’ ini melibatkan 1.200 pengguna mobil listrik, dari 12 kota besar di Indonesia.

Dijelaskan President Director Praxis, Adwi Yudiansyah, survei yang dijalankan dilakukan secara komprehensif memotret perilaku, preferensi, dan aspirasi dari pengguna mobil listrik.

“Ini memberikan peta jalan yang jelas bagi seluruh pemangku kepentingan industri,” jelas Adwi Yudiansyah, dalam keterangan resmi, Sabtu (16/8/2025).

Dalam riset tersebut, terungkap jika daya tahan baterai menjadi faktor paling penting bagi pengguna (35,17%), mengungguli harga beli (21,33%) dan reputasi merek (18,5%).

Selain itu, mayoritas responden (52%) menyatakan garansi baterai sebagai penawaran paling memengaruhi keputusan pembelian, diikuti diskon harga (30%) dan bundling wall charger (10%).

Survei ini juga menyoroti tantangan infrastruktur. Hampir separuh responden (46%) menekankan prioritas kebijakan berupa perluasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan ketersediaan bengkel resmi. Meskipun 79% pengguna menilai pengalaman berkendara lebih baik dibanding mobil konvensional, 78% mengaku durasi pengisian daya selama 6 jam terlalu lama, jauh dari harapan ideal 1-2 jam.

Selain itu, media sosial terbukti menjadi platform informasi paling efektif bagi pengguna (51%), jauh mengungguli pameran otomotif (22%).

CATEGORIES
TAGS