Gelombang PHK di Industri Otomotif: Volvo Potong 3.000 Pekerja

STOCKHOLM, AVOLTA – Volvo hentikan 3.000 karyawan di Swedia akibat biaya tinggi & perlambatan EV. Simak dampak PHK besar-besaran ini terhadap industri otomotif global!
Industri otomotif global sedang tidak baik-baik saja. Setelah BYD menghadapi krisis dealer di Cina, kini Volvo Cars mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap 3.000 karyawandi Swedia. Langkah ini menjadi sinyal alarm bagi masa depan industri mobil—terutama di tengah perlambatan pasar kendaraan listrik (EV).
Menurut Reuters (2/6/2025), PHK ini menyasar posisi profesional, administratif, dan manajerial, termasuk di departemen R&D, HR, dan Komunikasi. Kebijakan tersebut bagian dari rencana penghematan senilai 18 miliar krona Swedia (Rp30,8 triliun) yang diumumkan April lalu.
Penyebab PHK: Biaya Tinggi, Permintaan EV Melambat, dan Ketidakpastian Global
CEO Volvo, Håkan Samuelsson, menjelaskan tiga faktor utama di balik keputusan ini:
-
Biaya Operasional Membengkak
-
Kenaikan harga bahan baku dan logistik akibat ketegangan geopolitik.
-
-
Penjualan EV Tidak Sesuai Ekspektasi
-
Permintaan kendaraan listrik global tumbuh lebih lambat dari proyeksi, memaksa produsen meninjau ulang strategi.
-
-
Tekanan Pasar Modal
-
Volvo perlu memperbaiki kinerja keuangan untuk mendongkrak harga saham.
-
“Ini langkah menyakitkan tapi perlu. Kami butuh organisasi yang lebih ramping dan efisien,” tegas Samuelsson.
Dampak PHK: Gothenburg Jadi Episentrum, Karyawan Dipacu Lebih Produktif
-
Lokasi Terdampak: Sebagian besar PHK terjadi di Gothenburg, pusat operasi Volvo di Swedia.
-
Restrukturisasi Internal:
-
Karyawan yang tersisa akan diberi tanggung jawab lebih besar.
-
Proses rekrutmen untuk posisi kritis tetap berjalan.
-
-
Respons Serikat Pekerja:
-
Federasi pekerja Swedia (Unionen) menyatakan akan memantau kompensasi dan transisi bagi karyawan yang terkena PHK.
-
Industri Otomotif di Ujung Tanduk?
Volvo bukan satu-satunya produsen yang merespons krisis:
-
Ford & GM (AS): Memangkas produksi EV dan menutup pabrik baterai.
-
BYD (China): Dealer besar Qiancheng kolaps, ribuan pelanggan terlantar.
-
Tesla: PHK 10% karyawan global pada April 2024.
Data Kunci:
-
Penjualan EV global diperkirakan hanya tumbuh 15% pada 2025, turun dari proyeksi awal 25% (BloombergNEF).
-
Biaya produksi EV masih 20-30% lebih tinggi daripada mobil konvensional.
Masa Depan Volvo & Industri: Apa yang Bisa Dipelajari?
-
Bagi Produsen:
-
Fokus pada profitabilitas, bukan hanya ekspansi pasar.
-
Akselerasi inovasi teknologi untuk tekan biaya produksi EV.
-
-
Bagi Pekerja:
-
Tingkatkan skill di bidang elektrifikasi dan AI untuk tetap relevan.
-
-
Bagi Investor:
-
Waspadai volatilitas saham otomotif hingga 2026.
-
Transformasi atau Kolaps?
PHK Volvo mencerminkan titik balik kritis industri otomotif. Di satu sisi, transisi ke EV tak terhindarkan; di sisi lain, pasar belum siap menanggung biayanya.
“Era mobil listrik tak semudah yang dibayangkan. Produsen harus menemukan formula bisnis yang sustainable—atau gulung tikar.”
Apa pendapat Anda? Bagaimana Indonesia harus menyikapi tren ini? Sampaikan di kolom komentar!
