Penjualan Elektrifikasi Indonesia Ditarget 200 Ribu 2024

Wuling Air EV Lite. (IST)
JAKARTA, AVOLTA – Penjualan kendaraan elektfirikasi, termasuk hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV) di Indonesia ditargetkan bisa tembus 200 ribu unit hingga akhir 2024.
Target tersebut, disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
“Saat ini pasar (elektrifikasi) masih 80 ribu unit, termasuk hybrid. Jadi, yang terbanyak Innova Zenix hybrid. Tentu kita berharap bisa meningkat ke 200 ribu unit setahun targetnya untuk seluruh EV,” jelas Airlangga, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lanjut Airlangga, kehadiran banyak produk baru, dari berbagai merek yang menawarkan berbagai macam teknologi termasuk hybrid dan listrik murni, diharapkan bisa mengangkat penjualan keseluruhan segmen elektrifikasi di Indonesia.
“Ada pergantian yang beli ICE (internal combustion engine) ke EV. Mungkin market meningkat 1,1 juta unit, tetapi proporsi elektrifikasi bisa 15 -18 %,” tegasnya.
Sementara itu, mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan kendaraan listrik di Tanah Air, memang masih dikuasai segmen hybrid. Pasalnya, penjualan BEV sendiri, baru terlihat pada 2020 lalu.
Pada 2020, penjualan wholesales (pabrik ke diler) untuk hybrid, adalah sebesar 1.191 unit, PHEV 8 unit, dan BEV baru 125 unit.
Kemudian, pada 2021, pasar hybrid meningakt menjadi 2.471 unit dengan market share 0,3%, PHEV 46 unit, dan BEV juga mengalami peningkatan menjadi 687 unit atau menyumbang 0,1%.
Kemudian pada 2022, penjualan mobil hybrid tumbuh menjadi 10.344 unit, PHEV 10 unit, dan BEV mulai menyusul segmen hybrid dengan mampu terjual sebanyak 10.327 unit. Dan pada 2023, dengan berbagai insentif yang diberikan pemerintah untuk menopang penjualan elektrifikasi, hasilnya mobil hybrid terjual 54.179 unit, PHEV 128 unit, dan BEV 17.051 unit.
