Indonesia Sepakat Kembangkan Ekosistem EV di ASEAN

JAKARTA, AVOLTA – Sejumlah negara di ASEAN termasuk Indonesia sepakat ikut mengembangkan ekosistem electric vehicel (EV) secara bersama-sama. Hal ini sesuai dengan tekad bersama untuk menjadikan ASEAN sebagai kawasan hijau dan rantai pasok global dalam industri kendaraan listrik.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal RI (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) telah menyepakati adanya pembentukan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) bersama.
“Kami juga menyepakati pentingnya melakukan satu formulasi untuk pembangunan ekosistem energi baru terbarukan, kemudian menurunkan emisi, dan perlu melakukan penekanan terhadap ekosistem mobil listrik ini menjadi satu bagian terpenting. Indonesia mengembangkan sendiri, Malaysia sendiri, Vietnam, Thailand, dan hampir semua negara sedang mengembangkan ekosistem EV. Ini adalah bagian terpenting yang kita rumuskan,” ungkap Bahlil beberapa waktu lalu.
Bahlil mengatakan bahwa kini ASEAN menjadi tujuan utama investasi pengembangan EV. Pada tahun lalu lalu saja, jumlah kucuran dana ke kawasan Asia Tenggara meningkat tajam 570 % menyentuh 18 miliar dollar AS atau setara Rp 275 triliun.
Selain itu, ia menyebut 10 produsen kendaraan listrik global teratas hadir di ASEAN. Begitu pula 9 dari 10 produsen baterai listrik yang aktif berinvestasi di Asia Tenggara. Menteri Investasi sekaligus Deputi Direktur Jenderal Badan Investasi Asing Kementerian Perencanaan dan Investasi Vietnam Nguyen Anh Tuan setuju dengan ucapan Bahlil.
“Saya percaya bahwa ASEAN mampu menjadi daerah yang mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dan saya sepenuhnya setuju dengan Ketua ASEAN Investment Area (Bahlil) bahwa untuk menarik FDI dan juga untuk mengembangkan sektor potensial, seperti kendaraan listrik, kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita perlu bekerja sama,” ujar dia.
