Rencana IBC Kuasai Teknologi Baterai pada 2030

Skuter listrik Yamaha Neo dibekali baterai. (Yamaha)
JAKARTA, AVOLTA – Indonesia Battery Corporation (IBC) memiliki target menguasai teknologi baterai dari hulu ke hilir, dari nikel sampai kendaraan listrik Indonesia. Targetnya, bisa diproduksi pada 2026.
Dijelaskan Direktur Utama IBC, Toto Nugroho, terkait rencana perusahaan hingga tujuh tahun ke depan, adalah selain fokus dengan proyek end to end baterai kendaraan listrik, IBC juga akan berusaha untuk meningkatkan ekosistem kendaraan listrik (EV).
“Timeline pada 2023, konsentrasi kami selain proyek end to end adalah bagaimana untuk meningkatkan dari segi kualitas dan biaya, khususnya harga roda dua dan meningkatkan penjualan yang awalnya 6 ribu unit jadi 15 ribu unit. Setelah itu kita akan terkonsentrasi Battery Energy Storage System (BESS), itu kami harapkan sudah menjadi target utama,” ujar Toto saat Rapat Dengan pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, disitat dari Bisnis.com, Jumat (14/4/2023).
Setelah itu, pada tahun berikutnya atau 2024, IBC menyebutkan bahwa baterai EV sudah mulai diproduksi di Karawang. Bahkan, untuk pengolahan limbah baterai ditargetkan bisa beroperasi pada 2024 atau 2025.
Sementara itu, untuk proses produksi baterai EV nikel, mulai dari pemurnian nikel atau High Pressure Acid Leaching (HPAL), refinery, hingga menjadi prekursor dan material sel baterai bisa diproduksi pada 2025. Kemudian, tahun selanjutnya, adalah melakukan produksi pertama baterai EV.
“Dari aspek 2025 ini sangat penting karena ditargetkan produksi nikel melalui proses di HPAL dan refinery menjadi prekursor dan baterai material yang siap kami olah jadi baterai nikel made in Indonesia. Dan 2026 diharapkan dari hulu bisa produksi pertama kali di Indonesia,” tegas Toto.
Pada 2030, IBC akan berupaya menguasai teknologi baterai dari hulu hingga hilir, agar bisa muncul kemandirian dalam proyek baterai EV Indonesia ke depannya.
